Friday, February 28, 2014

The Journeys






A Very Huge HELLO!
Assalamualaikum everyone 

Today,  I wanna share some thoughts of mine.
It’s about Journey.

Entah sejak kapan aku mulai suka baca buku non fiksi, mungkin sejak baca Omiyage, buku tentang bagaimana seorang mahasiswa menjalankan kehidupan di Jepang, dengan beasiswa bergengsi. That book’s really really interesting, and  because I enjoy that book a lot, so I tried to read another book about peoples journey or biography.

Well, I just finish read The Journeys 3 book. It’s a book about unique, great and absolutely awesome journeys of people. The Journeys 3 contains stories about travelling to find where or the feeling of being home.


The first story come from Husni Mubarak Zainal, a doctor that work in Black Land—Africa. Saat awal baca cerita ini I was wondering What He’s gonna tell, since He was in Zambia. But, my Jaw drops! Oh My God! Subhanallah, is that true?! He tells his experience, the extreme travelling in Zambia. He’s rafting in Zambezi river, which is known has the best rapids and also its crocodile! Dan melewati sebuah  air terjun terbesar di dunia, Victoria Falls! Kemudian ia juga bercerita tentang pengalamannya menaiki microlight, microlight itu kaya apa ya? Hmm pesawat terbuka, dengan 3 roda dan sebuah baling2 di belakangnya. Dan, microlight lah yang juga membawanya melihat Devils Pools! Kolam yang terletak diujung atas Air terjun tadi.
Singkat cerita, cerita pertama dari dokter Husni atau yang terkenal dengan username @justhityou di media social, ia telah berhasil. Iya, Berhasil, berhasil mengubah pandanganku tentang sebuah perjalanan. Kalau biasanya kita dengan mudah menyebut Tokyo, Seoul, Paris dan kota-kota metropolitan lainnya, kini ia berhasil membuatku mengubah perspektif akan sebuah kata keindahan. Keindahan bisa ditemukan di tempat yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya, di Zambia tetangga Zimbabwe. Sebuah Negara yang serinng kali dijadikan bahan ledekan. I’m sorry but it’s the truth.

Second story, it comes from the amazing couple. Dina and her husband are having a well living life, but then they decided to become a nomad. They began their journeys in New Zealand, They tell us about Their’s nomadic living in New Zealand, how they survive to live in a campervan. I really enjoy their story while I imagine how could it be, or what im gonna do if I was her. Oh ya itu adalah perjalanan mereka di tahun 2010, kemudian akhir cerita di tahun 2012, dimana mereka sedang di Thailand, dan mereka masih menjadi seorang nomaden sampai sekarang. Just meet them in @DuaRansel Oh ya Mba Dina ini ketemu sama suaminya di Jepang waktu dia dapet beasiswa disana, ya ampun mengingatkan betapa besar keinginan gue untuk tinggal di Jepang.

Next jump to the fourth story. The story about the boy who wanted to rememorize his dad memories in Japan! Jadi dia berkesempatan untuk mengunjungi Jepang dan mengunjungi tempat-tempat yang ayahnya kunjungi. Tentang sushi terenak sedunia--but still i'm not into raw meat person. kenapa ada beberapa kemiripan antara kisah ke empat sama kisahku sendiri. I adore Japan, and so does my father. Kebawa sedih aja sama ceritanya, aku sih berharap kalau suatu saat ke Jepang nanti papah masih sehat dan bisa liat gue juga ikutin dia ke jepang.

Kemudian kita langsung terbang ke sepuluh ya, judulnya Berhenti Sejenak. Berhenti sejenak, dari apa? Dari apapun kalau aku tangkep sih memang terkadang kita perlu berhenti sejenak jika sedang melakukan apapun, apapun benear-benar apapun. Karena berhenti sejenak dapat merecharge tenagamu, pikiranmu, untuk meraih tujuanmu. Disini, Mba Hanny Kusumawati bercerita tentang apa yang ia alamai dan ia dapati saat berhenti sejanak di sebuah pulau bernama Santorini. Kalau ga salah kota di film Mamma Mia bukan sih ? Gimana ia bisa ketemu dengan seorang nenek yang langsung menjudge dia seorang wanita baik, hanya gara-gara dia memutuskan untuk berhenti sejenak di toko mungil milik si nenek. Juga saat ia bertemu dengan Adriano, Alex, tokobuku mungil.

Oh iya, cerita Slow Travelling dari Mas Ve Handojo juga menarik sepenuhnya minat gue, membuat gue berdoa semoga suatu saat gue udah mapan, makmur, kaya raya tapi gak sombong gue bias nyobain slow travelling di Sidney, hanya untuk sekedar mencicipi kopi di kedai kedai local. Sidney, menurut cerita di buku ini sih Sidney ga sepopuler dan secrowded Melbourne, but Sidney also has its own uniqueness.
Buku The Journeys selalu berhasil membuat gue untuk bersemangat menghadapi birokrasi menyebalkan yang ada di Indonesia, untuk dapetin passport. Supaya gue juga bias ngerasain,  how does it feels to stop for a while in somewhere,
Masih banyak cerita cerita lagi di dalam the journeys, kapan-kapan aku ceritain yaa. 

 Anyway in recent days I become one of active followers of Humans of New York. An Instagram acc which contains pictures of New York People with their own stories. Interesting. Bener-bener menarik, kita bisa lihat berbagai jenis ras manusia dapat ditemukan di akun IG itu, juga bagian microfashion, maksudnya fashion yang unik di anak-anak—so, EXTREMELY CUTE! I learned a lot of things from their stories.






it's beautiful when we can enjoy the journey itself than just hurry to get the destination.


"If you want to go fast run alone. If you want to far, run together"





XOXO,

raCita,



No comments:

Post a Comment